Olahraga arung jeram di Indonesia menjadi sebuah Olahraga yang sangat menarik dan menantang. Pada awalnya, olahraga ini hanya dimonopoli oleh kalangan pecinta alam, namun kini siapapun dapat menikmati dan memacu adrenalin menyusuri derasnya hempasan arus sungai dengan gampang. Tidak jauh berbeda dengan olahraga alam bebas lainnya, dalam menikmati arum jeram faktor risiko selalu mengintip di sekeliling kita. Perahu terbalik karena tak terkendali dengan baik dan penumpang terhempas keras ke batu sehingga terpelanting, atau tiba-tiba dihempas air bah, dan sebagainya merupakan resiko yang mampu membangkitkan adrenalin para rafter. Namun semua risiko itu bisa diperkecil dengan adanya prosedur keselamatan yang teruji dengan baik.

Seorang rafter yang biasa melakukan rating bisa merasakan bahwa setiap sungai mempunyai karakteristik yang berlainan. Terutama berdasar besar kecil jeram yang ada di sepanjang alirannya, mulai dari yang mudah (kelas I dan II) sampai yang sulit (kelas V). Variasi jeram tersebut akan mampu memberikan kesan yang berbeda bagi para pengarung jeram, makin tinggi tingkat kesulitan dari jeram tersebut biasanya makin asyik dan makin menantang.

Arum jeram kini bukan lagi menjadi olah raga eksklusif kaum pecinta alam saja, namun kini sudah menjadi sebuah alternatif hiburan bagi masyarakat umum. Namun, dengan meningkatnya peminat arum jeram tersebut, makin menjadikan olahraga “arus liar “ ini sebagai sebuah peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Kini, banyak kita temui operator (penyelenggara) arum jeram bermunculan tersebar di seantero negeri ini. Daerah-daerah yang kini memiliki bisnis arum jeram antara lain tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.

Beberapa lokasi arum jeram yang banyak diminati antara lain:

–          Sungai Elo (Yogyakarta)

–          Sungai Progo Atas ( Yogyakarta )

–          Sungai Progo Bawah ( Yogyakarta)

–          Sungai Serayu (Purbalingga)

–          Sungai Pekalen Bawah ( Probolinggo)

–          Sungai Pekalen Atas ( Probolinggo)

–          Sungai Kasembon (Malang)

–          Sungai Sadan ( Sulawesi)

–          Sungai Citarik ( Sukabumi)

–          Sungai Cicatih ( Sukabumi)

–          Sungai Cikandang ( Garut)

–          Sungai Cimanuk ( Garut)

–          Sungai Palayangan ( Bandung)

Di lokasi sungai tersebut masing-masing mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Misalnya Sungai Citarik Sukabumi mempunyai tingkat kesulitan II-III+, kemudian Sungai Cicatih mempunyai tingkat kesulitan III-IV, Sungai Cikandang dan Cimanuk mempunyai arus yang lebih liar dan mempunyai tingkat kesulitan III-IV dengan suasana alam yang masih asri dan alami, sementara untuk Sungai Palayangan  Kabupaten Bandung bertipe speed rafting.

source bisnisukm